Apa Itu Kesehatan Mental?

28 Syakhila Qiwama 9E

cr.satu persen

Halo, Semua!

Nggak kerasa ya, kita udah ada di tahun kedua pandemi Covid-19. Dua tahun terisolasi, nggak kebayang juga stres yang dirasakan orang-orang, ya?

WHO mencatat, 93% layanan kesehatan mental di berbagai negara mengalami kenaikan permintaan. Nah,  salah satu penyebab kenaikan tersebut adalah pandemi. Hal ini karena pandemi membuat orang-orang merasa berduka, terisolasi, kehilangan pekerjaan, dan juga takut. Akhirnya, orang jadi lebih aware sama layanan kesehatan mental.

“COVID-19 telah mengganggu pelayanan kesehatan mental yang penting di seluruh dunia di saat mereka paling dibutuhkan. Para pemimpin dunia harus bergerak cepat dan membuat keputusan dalam program kesehatan mental – selama COVID-19 dan seterusnya,” kata Dr. Tedros, Director-General dari WHO.

Gangguan pada kesehatan mental memang bisa jadi masalah yang besar banget. Kesehatan mental dan kesehatan fisik adalah dua hal yang saling berkaitan. Kalau salah satunya bermasalah pasti akan mempengaruhi yang lainnya.

Tapi, tunggu dulu. Kalian udah paham belum kesehatan mental itu apa?Biar sama-sama enak, mending kita samain dulu deh pemahaman kita tentang kesehatan mental.

Langsung aja!

Apa Itu Kesehatan Mental?

WHO mengidentifikasi kesehatan mental sebagai keadaan di mana seorang individu menyadari kemampuannya dalam mengatasi stres, bekerja secara produktif, serta berkontribusi terhadap komunitasnya.

Kesehatan mental ini nggak kalah penting dengan kesehatan fisik. Dalam penjelasannya lebih lanjut, WHO bilang kesehatan baru tercapai kalau keadaan fisik, mental, serta sosial seseorang dalam kondisi sejahtera. Definisi ini menjadi penting, karena kesehatan itu bukan cuma soal punya atau tidak punya penyakit aja.

Kalian tau nggak, sebelumnya kesehatan mental pernah dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Stigma negatif yang selalu dikaitkan dengan mereka yang punya gangguan kesehatan mental jadi alasannya. Saking parahnya, para penderita yang harusnya ditolong ini malah dianggap kerasukan sampai dijauhi masyarakat!

Di abad ke-18 Amerika misalnya. Pasien-pasien dengan gangguan mental ditempatkan di lingkungan yang tidak terawat dan diberikan perlakukan yang nggak manusiawi. Perlakuan itu dijustifikasi oleh “hukuman religius” sebab mereka masih beranggapan gangguan mental diakibatkan oleh kurangnya nilai spiritual seseorang.

Sampai akhirnya munculah istilah mental hygiene yang pertama kali digunakan oleh filsuf Amerika, William Sweetzer pada 1843. Istilah tersebut kemudian diberikan definisi tetap oleh Isaac Ray, salah satu pendiri American Psychiatric Association, sebagai the art of preserving the mind against all incidents and influences calculated to deteriorate its qualities, impair its energies, or derange its movements.

Nggak berhenti sampe di situ. Dari sana, kampanye pentingnya kesehatan mental terus berlanjut sampai sekarang. Kesadaran masyarakat yang terus meningkat terhadap kesehatan mental, jadi buah manis dari perjuangan kampanye-kampanye ini.

Kenapa Menjaga Kesehatan Mental Itu Penting?

Seperti kata WHO tadi, kesehatan itu mencangkup fisik, mental, serta kehidupan sosial. Ketiganya saling berkaitan dan nggak bisa dipisahkan dari satu sama lain. Buktinya nih, para peneliti menemukan kalau kesehatan mental yang bermasalah akan menimbulkan perubahan-perubahan pada sistem tubuh seseorang.

Perubahan-perubahan tersebut antara lain:

  • Meningkatnya peradangan
  • Perubahan detak jantung serta sirkulasi darah
  • Hormon stres yang tidak normal
  • Dan perubahan metabolisme seperti pada orang yang berisiko diabetes

Perubahan pada sistem di tubuh tersebut dapat menurunkan respon imun seseorang. Akibatnya, orang tersebut lebih berpotensi mengundang penyakit-penyakit kronis. Peneliti juga menghubungkan kesehatan mental dan fisik ke dalam asosiasi berikut:

  1. Kesehatan mental yang buruk merupakan faktor dari penyakit kronis.
  2. Orang dengan gangguan kesehatan mental yang serius berisiko tinggi mengalami penyakit kronis.
  3. Orang dengan penyakit kronis berisiko tinggi mengalami gangguan kesehatan mental.

Ngeri juga ‘kan?

Selain dengan kesehatan fisik, kesehatan mental juga tidak nggak bisa dipisahkan dari kehidupan sosial seseorang. Karena saling berkaitan juga.

Sebagai makhluk sosial, manusia memerlukan pertukaran interaksi antar sesama untuk bisa menjaga kualitas hidupnya. Orang-orang yang terisolasi secara sosial, atau tidak memiliki hubungan sosial yang baik dengan sekitarnya cenderung memiliki kesulitan untuk merawat diri mereka.

Sebuah penelitian di Perancis juga menemukan kalau kualitas hidup seseorang sangat dipengaruhi oleh kehidupan sosial mereka. Semakin jarang pertukaran interaksi yang mereka lakukan, semakin menurun kualitas hidup yang mereka rasakan.

Tinggalkan Komentar